Permainan Dapat Berpengaruh Terhadap Motorik Anak Menjadi Hiperaktif - Guru Abata

Rabu, 13 Februari 2019

Permainan Dapat Berpengaruh Terhadap Motorik Anak Menjadi Hiperaktif


Permainan Dapat Berpengaruh Terhadap Motorik Anak Menjadi Hiperaktif

Tahukah Anda bahwa permainan dapat berperan sebagai pemicu motorik anak hingga menjadi anak yang hiperaktif? Berikut ini Guru Abata membahas mengenai hal tersebut dengan tahap pengujian pertama menguji daya tarik alat yang dibuat kepada anak-anak.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan jangka panjang yang telah menyerang jutaan anak dengan gejala-gejala yang dapat berlangsung hingga mereka dewasa. Siapa pun memiliki potensi menderita kondisi seperti itu.

ADHD mencakup tiga aspek gangguan, mulai dari sukar memfokuskan perhatian, hiperaktif, dan impulsivitas. Anak yang menderita ADHD akan cenderung rendah diri, sulit berteman dan mempunyai kemampuan yang kurang memadai.

Masalah ini membutuhkan terapi khusus yang terfokus pada kekurangan masing-masing individu. Untuk menanganinya, dibutuhkan modifikasi perilaku dan kesediaan orang tua untuk mengubah pola asuh terhadapa anak mereka.

Perlu diketahui, bahwa ADHD tidak bisa disembuhkan, akan tetapi dapat diminimalisir gejalanya melalui terapi, obat, lingkungan, atau perubahan perilaku. Kondisi itulah yang melatarbelakangi beberapa mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Mereka menciptakan alat terapi sederhana yang berupa modifikasi sensor motorik pada permainan sederhana. Permainan ini, selain menyenangkan, dapat juga untuk melatih kemampuan koordinasi dan keseimbangan anak ADHD.

Mereka adalah Deanira Mareta Vernelya dari Prodi Keolahragaan, Dzikrina Saras Kurnia dari Prodi PJKR, dan juga Firhan Dedy Pramudya dari Prodi Pendidikan Teknik Mesin. Menurut Deanira, ADHD merupakan kondisi medis yang mencakup disfungsi otak.

Ketika seseorang mengalami kesulitan dalam mengendalikan impuls, maka akan menghambat perilaku dan tidak dapat mendukung rentang perhatian. Apabila terjadi, bisa mengakibatkan berbagai kesulitan belajar, berperilaku, sosial dan kesulitan-kesulitan lainnya.

"Secara umum, ADHD adalah suatu kondisi ketika seseorang memperlihatkan gejala-gejala kurang konsentrasi, hiperaktif dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas," kata Deanira.

Firhan menjelaskan, perancangan desain alat dimulai dari mengumpulkan dasar teori pada masing-masing komponen. Langkah selanjutnya adalah membuat rancangan fisik yang bahan-bahannya mencakup papan, bola mainan, LED, sensor IR dan juga kontrol elektronik.

Modifikasi sensor motorik pada permainan sederhana agar dapat melatih kemampuan koordinasi dan kesabaran anak penderita ADHD. Alat ini telah dirancang mampu untuk bekerja secara otomatis disaat sensor IR mendeteksi seseorang ketika memegang bola.

Telapak tangan transparan ditujukan untuk mempermudah cahaya yang datang dari LED. Sehingga, telapak tangan transparan akan memancarkan warna sesuai dengan LED yang menyala.

Ia menekankan bahwa untuk menghindari warna yang tabrakan, maka harus dipasang sistem interlocking LED. Sehingga, akan ada satu warna saja yang menyala, kecuali ketika ada dua anak yang memegang bola pada papan, sebab warna maksimal juga ada dua.

"Artinya, jumlah warna LED yang boleh menyala menyesuaikan dengan jumlah anak yang ada di dalam papan bola," ujar Firhan.

Saras menambahkan, alat ini sudah melalui proses pengujian yang dilakukan dalam salah satu ruangan di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Langkah pengujian ini sangat diperlukan dalam menentukan secara pasti, tentang bagaimana alat itu dapat bekerja.

Proses pengujian ini terdiri dari beberapa tahap, mulai dari pengujian desain alat, pengujian sensor dan sistem alat, serta pengujian alat secara langsung kepada anak ADHD. Tahap pengujian pertama menguji daya tarik alat yang dibuat kepada anak-anak.

"Bila anak-anak tertarik dengan desain yang warna-warni, maka pengujian pertama telah berhasil," kata Saras.

Tahapan pengujian yang kedua yaitu menguji sensor dan sistem alat untuk mengetahui sistem yang dirancang bekerja dengan benar dan tidak memunculkan tampilan warna yang kacau. Pengujian ini dilakukan pada anak yang memegang bola yang memiliki sensor.

Pengujian ini memerlukan satu orang sebagai syarat mengetahui efektifitas sistem alat. Tahap pengujian terakhir yaitu menguji secara langsung kepada anak penderita ADHD, dengan anak memegang bola yang sudah terdapat sensor lampur LED.

"Salah satu bola di dalam kotak akan menyala jika disentuh tangan dengan warna yang berasal dari pancaran LED, anak ADHD akan diminta mengikuti arah warna tersebut," ujarnya.


Sumber: Republika
Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.
EmoticonEmoticon

SELAMAT DATANG
Selamat datang di blog Guru Abata, kami selalu berupaya untuk memberikan konten yang bermanfaat dan mendidik bagi pengunjung yang dikemas dengan informasi yang cerdas dan menarik.

Jangan lupa untuk meninggalkan komentar pada setiap artikel yang Anda kunjungi karena kami pun tidak keberatan untuk dikritisi.
Oke