Kisah Seorang Kepala Sekolah Bimbing Siswa Belajar Membaca

Warsiah adalah seorang Kepala SDN 013 Desa Bulu Perindu, Kecamatan Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Ia dan para guru pernah menerima laporan bahwa ada siswa dari lulusan sekolahnya belum lancar membaca ketika duduk di bangku SMP.

Setelah diidentifikasi, ternyata benar terdapat sejumlah siswa di kelas empat, lima, dan kelas enam sekolahnya belum bisa membaca dengan baik.

Mengatasi persoalan seperti itu, sang kepala sekolah, yang juga selaku fasilitator program Inovasi bagi Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di Kabupaten Bulungan, kemudian menyelenggarakan layanan atau bimbingan khusus dari mulai melakukan indentifikasi siswa yang belum bisa membaca pada tingkat SD kelas tinggi tersebut.

Kisah Seorang Kepala Sekolah Yang Membimbing Siswa Belajar Membaca

1. Observasi Melalui Buku Cerita


”Biasanya saya masuk ke kelas dan menggantikan guru pada waktu tertentu. Kemudian saya lakukan tes kepada masing-masing siswa untuk membaca satu per satu. Caranya dengan meminta kepada mereka untuk membaca buku. Dulu, saya memanfaatkan buku teks pembelajaran untuk menguji kemampuan membaca mereka. Sekarang, saya memakai buku cerita," ungkap Warsiah.

Tes ini dilakukan secara berkali-kali sampai benar-benar yakin bahwa anak tersebut memang mengalami hambatan belajar yang disebabkan belum lancar membaca. Biasanya, Warsiah memerlukan waktu hingga dua minggu untuk melakukan observasi.

Menurut Warsiah, anak-anak belum lancar membaca biasanya akan menunjukkan tanda tersendiri. Misalnya, jika diminta untuk membaca suatu kalimat, maka anak itu akan lama sekali untuk mengeja satu kata atau menyebutkan huruf secara tidak teratur.

Mereka bahkan tidak mengerti terkait konteks bacaan dan tidak mampu menunjukkan kata yang dieja atau terkadang mengeja kata yang sebenarnya tidak diminta untuk dibaca. "Beberapa hal tersebut disebabkan karena anak menghafal kata, sehingga ketika diminta untuk membaca kata yang lainnya, maka mereka tidak mampu melakukannya," jelasnya.

2. Pengelompokan Masalah Membaca


“Setelah melakukan observasi, maka anak tersebut akan dipisahkan dari kelompoknya. Saya minta kepada guru agar anak tersebut jangan dilibatkan dalam proses pembelajaran untuk sementara waktu," lanjut Warsiah.

Menurutnya, jika belum bisa membaca maka anak tidak akan bisa menangkap materi yang diajarkan. Selain itu, anak yang belum lancar membaca jika dipaksa untuk mengikuti pembelajaran maka tidak akan bermanfaat.

Namun sebaliknya, anak justru akan semakin tertekan. "Anak-anak ini perlu diberikan layanan atau bimbingan khusus agar mereka bisa cepat membaca. Dengan cara ini mereka masih dapat mengejar ketertinggalan materi pembelajaran dari teman-temannya,” kata Warsiah.

Anak-anak yang belum bisa membaca akan dikelompokkan. Sedangkan anak yang belum bisa mengeja dengan anak belum lancar membaca akan dipisahkan juga. Mereka akan ditangani dengan cara yang berbeda karena akan tidak efektif apabila mereka berada pada satu kelompok.

3. Dari Kartu Baca Ke Buku Besar


Disini anak yang belum bisa mengeja diberikan layanan atau bimbingan khusus dengan cara memperkenalkan huruf, yaitu dengan memakai kartu huruf dan kartu kata. Biasanya, setelah satu minggu anak diberi bimbingan secara khusus, maka mereka akan bisa mengenali huruf.

Setelah anak bisa mengenal huruf, kegiatan berikutnya adalah mengajari mereka mengenal bunyi huruf serta membunyikannya. Menurut Warsiah, secara keseluruhan butuh waktu dua minggu agar anak mampu mengenal bunyi huruf.

“Jika anak sudah mampu mengenal huruf dan bunyi, materi akan saya lanjutkan dengan cara mengenalkan kata. Saya memulainya dengan mengenalkan gabungan dua suku kata yang mempunyai arti. Misalnya saja ‘bo’ dan ‘la’, jika digabung maka menjadi bola. Atau ‘ka’ dan ‘ki’, yang setelah digabung menjadi kata kaki. Proses ini memerlukan waktu 1,5 bulan,” jelasnya.

Ketika mereka telah lancar mengenal dua suku kata, baru boleh dilanjutkan memakai buku bacaan dan mengajak mereka untuk membaca buku cerita yang bergambar. Penggunaan gambar dapat membantu anak mengetahui makna dari cerita yang dibahas.

Warsiah juga menggunakan media pembelajaran Big Book atau Buku Besar. Disaat sedang membaca buku, ia tidak hanya meminta anak untuk mengucapkan kata dengan benar, akan tetapi sembari menunjuk kata yang dibaca.

4. Belajar Dengan Menyenangkan


Kisah Seorang Kepala Sekolah Yang Membimbing Siswa Belajar Membaca

Jika mereka selesai membaca, anak-anak akan diminta untuk menceritakan ulang cerita yang telah dibaca, dan menjelaskan dengan kalimat mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa anak dapat memahami makna bacaan cerita tersebut.

Layanan atau bimbingan khusus ini selalu dilakukan oleh Warsiah sejak pagi sampai selesai jam pembelajaran.

Baca juga: Cara Efektif Agar Seorang Guru Benar-Benar Mampu Menguasai Kelas

Untuk mengantisipasi rasa bosan bagi anak yang tidak suka berlama-lama duduk di kelas, Warsiah dan para guru selalu berusaha membuat suasana kegiatan membaca menjadi lebih menyenangkan.

“Memang tidak mudah, karena anak tidak akan tahan berlama-lama duduk di kelas. Mereka akan mudah merasa bosan sebab tidak belajar bersama teman-teman sebayanya. Maka dari itu, kegiatan membaca harus dibikin menyenangkan," ujar Warsiah.

Terkadang ia juga perlu memperhatikan suasana hati anak. Apabila mereka ingin bermain-main, maka Warsiah membiarkan mereka untuk bermain dulu. "Jika suasana hatinya riang gembira, maka saya teruskan kembali kegiatan membaca. Saya pun tidak mau memaksa jika mereka minta pulang,” kata Warsiah.

5. Bimbingan Sesuai Gaya Belajar Anak


Faktor kehadiran anak juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Anak jarang datang ke sekolah. Alasannya banyak, padahal hal itu lantaran mereka belum bisa membaca, sehingga menjadi tidak mengerti apa yang harus mereka pelajari.

Walau pun begitu Warsiah tidak menyerah. Tidak jarang ia akan mendatangi langsung dan menjemput mereka ke rumah. Bekerjasama dengan orang tua, ia juga mengajak anak untuk dapat belajar kembali.

Warsiah menyadari betul mengenai tanggung jawab seorang guru dan kepala sekolah. Walaupun tidak mudah, tapi ia tidak mau berhenti begitu saja.

Ia mengaku akan merasa bersalah dan sia-sia apabila anak didiknya gagal dalam pendidikan hanya karena belum bisa membaca. Baginya, semua anak itu sama pintar asal dilayani dan diberi bimbingan sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing sebagai anak.

Kirim Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.

Lebih baru Lebih lama