Haruskah Kita Menerapkan Perilaku Hidup Sederhana?

Sahabat, tempo lalu Guru Abata pernah membahas tentang hidup qonaah. Nah pada artikel ini dapat dikatakan sebagai penguat untuk pembahasan tentang qonaah tersebut. Sekarang, kita bahas tentang belajar hidup sederhana.

Tahukah Anda, bagaimanakah hidup sederhana itu? Haruskah kita belajar untuk menerapkan hidup sederhana? Dalam Quran Surah Al Furqaan ayat 67 Allah Ta'aalaa berfirman:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧

Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan (pula) tidak kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dari ayat tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa hidup sederhana itu adalah di antara berlebihan dan kikir. Berlebihan artinya melebihi batas kewajaran atau kebiasaan, sedangkan kikir artinya terlalu hemat alias pelit.

Haruskah Kita Menerapkan Perilaku Hidup Sederhana?

Jadi, orang yang hidup sederhana itu bukanlah orang yang mempergunakan hartanya secara berlebih-lebihan dan bukan pula orang yang pelit atau kikir.

Dalam menggunakan uang dianjurkan untuk tidak belanja secara berlebihan dan tidak pula terlalu hemat dan pelit. Karena hidup sederhana bukan berarti harus hidup miskin atau tidak memiliki apa-apa, namun harus seimbang dengan kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan.

Contoh sederhana misalnya ketika makan ketoprak, antara makan satu piring dengan makan seperempat piring, maka yang dianggap sederhana dari keduanya adalah makan ketoprak dengan satu piring.

Meskipun Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam seorang utusan dan pimpinan negara yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar, namun hidup beliau selalu sederhana dan menjauhi hidup mewah dan berfoya-foya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam selalu tidur dengan sehelai tikar lusuh sebagai alasnya, dan setiap bangun dari tidurnya nampak ada guratan tikar di pipinya. Begitulah sederhananya kehidupan Rasulullah, akan tetapi beliau merupakan orang yang paling mulia di hadapan Allah.

Mampukah kita meneladani kesederhanaan Rasulullah? Apa keuntungan yang kita peroleh dari hidup sederhana?

Kita semua tentu tahu jawabannya. Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam diutus oleh Allah untuk memberikan teladan kepada umatnya dalam menghadapi kehidupan. Dan kita semua sebagai umatnya harus berusaha dengan segenap kemampuan untuk mengikuti perilaku Rasulullah sebagai ketaatan kita kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

Orang yang hidup sederhana, bukan berarti orang miskin atau orang yang tidak mampu. Tapi ia adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya agar tidak melakukan hal yang berlebihan.

Hidup sederhana akan memberikan banyak keuntungan kepada kita, beberapa di antaranya adalah:

- Orang yang hidup sederhana berarti telah menjalankan perintah Allah yang termaktub sebagai ajaran Islam. Maka orang tersebut pasti akan mendapatkan pahala.

- Orang yang hidup sederhana berarti telah mengalahkan godaan setan yang selalu menggoda dan mengajak untuk hidup berfoya-foya dan boros.

- Orang yang hidup sederhana akan membentuk pribadi yang rendah hati dan disukai oleh orang banyak.

- Orang yang hidup sederhana tidak akan terkena virus resah dan gelisah. Karena resah dan gelisah hanya dimiliki oleh orang yang tidak percaya akan keagungan Allah.

- Orang yang hidup sederhana tidak akan merasa iri dan dengki, apalagi mengambil barang milik orang lain.

Sahabat Guru Abata, coba perhatikan Quran Surah Al Isra ayat 27 berikut ini:

إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا ٢٧

Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.

Dijelaskan dalam Surah Al Isra ayat 27 di atas bahwa pemboros adalah saudara setan, sedangkan setan sangat ingkar kepada Rabbnya (Allah). Hal tersebut memiliki arti yang menunjukkan bahwa orang yang biasa hidup boros termasuk orang yang ingkar kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Ingkar artinya tidak patuh dan tunduk kepada perintah Allah baik suka maupun duka.

Semua orang bisa melakukan perilaku hidup sederhana, tergantung kemauannya. Hidup sederhana dapat dimulai dengan niat tulus dan ikhlas, serta menggantungkan niat tersebut hanya untuk menjalankan perintah Allah.

Kita bisa menerapkan perilaku hidup sederhana dengan mengawalinya dari membiasakan diri makan dan minum dengan menu dan jumlah yang sederhana, membeli belanjaan sesuai dengan kebutuhan yang penting saja, dalam membeli pakaian tidak harus mengikuti tren mode yang sedang populer dan lain sebagainya.

Apabila tidak dimulai dari sekarang, maka akan sulit untuk mengimplementasikan hidup sederhana dan berlanjut hingga masa tua nanti. Bahayanya, jika sudah terbiasa hidup serba lebih dan suatu ketika kebiasaan tersebut tidak terpenuhi, maka akan timbul banyak permasalahan,mulai dari gelisah, marah, kemudian akan menghalalkan segala cara untuk memperolehnya seperti dengan cara mengambil milik orang lain dan lain sebagainya. Na'uudzu billaahi min dzaalik

Cukuplah sudah pembahasan kita dalam artikel tentang belajar menerapkan hidup sederhana. Semoga kita semua dapat menjadi orang yang selalu memperbaiki diri untuk kehidupan yang lebih baik kelak. Apabila ada kekurangan pada pembahasan yang Guru Abata sampaikan di atas, silahkan beri sanggahan atau tambahan pada kolom komentar. Karena berbagi ilmu itu bukanlah sesuatu yang buruk, tapi merupakan hal yang baik.

Kirim Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.

Lebih baru Lebih lama