Mengapa Sahabat Rasulullah Umar Bin Khattab Menangis?

Siapa yang tak mengenal dengan sosok tangguh, berani juga disegani di Mekkah, yang memiliki perangai tegas, disiplin tinggi dan sangat ditakuti ini, namun dibalik watak keras dan tegasnya tersebut, ia memiliki hati yang sangat lembut?

Ya, dia adalah Umar bin Khattab ra., seorang pemberani yang dianugerahi Allah memiliki pemikiran tajam dan kepribadian tangguh serta kuat.

Sobat Guru Abata, kisah yang terangkum dalam judul Sepenggal kisah Umar bin Khattab dapat Anda simak dengan penghayatan penuh, agar dapat menjadi inspirasi bagi kita yang sedang kacau pikiran atau butuh siraman rohani untuk menumbuhkan iman Islam dalam hati.

Beliau adalah Umar bin Khattab ra. yang dikenal dengan julukan sebagai al-Faaruq. Pada suatu hari Umar bin Khattab ra. mendatangi Rasulullah SAW. yang sedang berada di kediamannya.

Lalu memasuki rumah dengan ruangan yang lebih pantas disebut gubuk kecil di samping Masjid Nabawi tersebut. Di dalam gubuk sederhana itu Umar mendapati Rasulullah SAW. sedang tidur di atas tikar kasar hingga guratan tikar tersebut membekas di badan dan muka beliau.

Sahabat Rasulullah Umar bin Khattab ra. Pun Menangis

Langsung saja, melihat kondisi Rasulullah seperti ini membuat Umar tak tahan untuk meneteskan air mata karena merasa iba dengan keadaan Rasulullah.

Rasulullah yang telah terjaga karena mengetahui kedatangan Umar itu lalu berkata: “Mengapa engkau menangis wahai Umar?” tanya Rasulullah.

Bagaimana saya tidak menangis, Raja Kisra dari Persia dan Kaisar duduk di atas singgasana megah berhiaskan emas, sementara tikar kasar ini meninggalkan bekas di tubuhmu wahai Rasulullah. Sedangkan engkau adalah kekasih-Nya.” Jawab Umar.

Kemudian Rasulullah menghibur Umar dengan berkata: “Mereka adalah golongan yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga, tak lama lagi akan hilang dan sirna. Tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat?”

Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia ini seperti orang bepergian di bawah terik panas. Orang tersebut berlindung sejenak di bawah pohon lalu beranjak meninggalkannya.”

Itulah sepenggal kisah Umar, tangisannya lahir dari iman yang berlandaskan tulusnya cinta kepada Rasulullah SAW. Kejadian yang disaksikannya itu membuat Umar merasa gundah.

Reaksi yang mengisyaratkan bahwa seharusnya orang-orang kafir yang selalu berusaha untuk menghalangi kebenaran, memadamkan cahaya iman dan menyebarkan kedengkian dengan kedustaan, merekalah yang seharusnya tidak menikmati karunia Allah.

Sebaliknya, Rasulullah SAW. yang telah menuntun umat manusia dari kebodohan menuju cahaya Islam lebih pantas untuk merasakan kesenangan dunia yang layak, demikian pikir Umar.

Kegundahan dan tangisannya itu dapat menjadi ibrah bagi orang-orang beriman sekarang. Yaitu bila kita mengukur hidup ini dengan ukuran duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang menyesakkan dada.

Tak usah merasa heran, sejak beberapa abad lalu Rasulullah telah menggambarkan tentang datangnya masa dimana orang-orang benar direndahkan dan dihinakan sedangkan orang-orang dusta diagungkan bahkan didukung mati-matian.

Rasulullah juga berpesan kepada orang mukmin agar jangan terlalu mudah terpesona dengan dunia milik orang kafir yang menggiurkan. Karena setiap orang beriman memiliki pengharapan besar yang jauh lebih indah yaitu kebahagiaan kekal di akhirat.

Demikian sepenggal kisah kehidupan yang dialami Umar bin Khattab bersama Rasulullah. Semoga dengan apa yang kita baca dengan penghayatan mendalam dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengenal lebih jauh tentang biografi Umar bin Khattab, insyaa Allah akan disampaikan pada postingan yang akan datang.

Kirim Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.

Lebih baru Lebih lama