Kisah Keteguhan Seorang Hamba Dalam Mempertahankan Iman

Kali ini, Guru Abata akan membagikan informasi mengenai kisah inspiratif yang berjudul kisah keteguhan hati seorang hamba dalam mempertahankan iman. Bacalah dengan penuh penghayatan agar kita dapat memperoleh manfaatnya.

Bilal bin Rabbah, muadzin Rasulullah SAW, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan akidah dan keimanan. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman.

Diantara pemeluk Islam periode pertama dari kalangan budak adalah Bilal bin Rabbah. Beliau adalah budak yang berasal dari negeri Habasyah (Ethiopia)

Ketika Muhammad bin Abdullah diutus oleh Allah SWT sebagai seorang Nabi dan Rasul-Nya dan diperintahkan untuk menyiarkan Islam pada kaumnya, Bilal bin Rabbah masih berstatus sebagai budak seorang pembesar Quraisy bernama Umayyah bin Khalaf.

Kisah Keteguhan Hati Seorang Hamba Dalam Mempertahankan Iman

Islam mulai merasuki diri Bilal bin Rabbah dan Bilal meyakini dan menjalani Islam secara sembunyi-sembunyi karena tuannya sangat benci dengan Islam.

Sepintar-pintarnya Bilal menyembunyikan keislamannya, akhirnya diketahui juga oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf. Mengetahui Bilal telah memeluk Islam, bukan main marahnya. Dia lalu memerintahkan orang untuk memanggil Bilal. Setelah Bilal datang menghadapnya, dia lalu berkata;

“Hai Bilal! Benarkah engkau telah memeluk agamanya Muhammad?” Bentak Umayyah penuh amarah yang meledak-ledak. Bilal hanya menjawab dengan diam. Bertambha marahlah Umayyah bin Khalaf.

“Hey budak bodoh! Apakah kau tidak mendengar perkataanku?” Kata Umayyah lagi. Bilal lagi-lagi hanya diam. Umayyah benar-benar tidak sabar atas sikap Bilal yang belum mengakui keislamannya. Kali ini, Umayyah bertanya sembari menggunakan cambuk.

Cetaaar! Suara pecutan cambuk terdengar memecah udara. Ujung cambuk itu melukai tubuh Bilal yang hitam dan bekas cambuk itu tersamar dengan warna kulitnya, tap darah mulai keluar dari kulit Bilal. Berkali-kali ujung cambuk menampar tubuh Bilal dan ia masih tidak mau menjawab pertanyaan dari Umayyah. Bilal berpendirian teguh.

“Kembalilah kamu ke agama nenek moyangmu! Tinggalkan agama Muhammad jika kamu tidak juga mau meninggalkan agama Muhammad, bersiaplah merasakan pedihnya siksa yang akan kamu dapati karena melawan tuanmu,” kata Umayyah.

Umayyah menyeret Bilal ke tanah lapang. Dengan tangan terikat, Bilal terus diminta untuk mengingkari agama yang dibawa Muhammad. Seperti sebelumnya, Bilal hanya diam seribu bahasa. Kemarahan Umayyah benar-benar membuncah. Bilal dengan tangan terikat terus dicambuki dan oleh anak Umayyah diseret dengan menggunakan Kuda. Penyiksaan itu benar-benar terasa menyakitkan bagi Bilal, tapi dia tidak mengaduh, ia hanya berseru menyebut asma Allah. Desis lafal Allah terus keluar dari mulut Bilal, “Ahadun Ahad, Ahadun Ahad, Allahu Ahad.”

Sambil terus merasakan siksa, dia terus berkata, “Ahadun Ahad, Ahadun Ahad, Allahu Ahad.”

Melihat keteguhan Bilal dalam mempertahankan keislamannya, Umayyah semakin kejam menyiksa Bilal. Dengan tangan dan kaki terikat sambil ditarik dengan kencang, menahan rasa sakit dan teriknya matahari gurun pasir, Bilal terus berdesah, “Ahadun Ahad, Ahadun Ahad, Allahu Ahad.”

Akhirnya Umayyah mengambil sebongkah batu besar dan menindihkan batu tersebut ke atas tubuh Bilal yang terlentang dengan tangan dan kaki terikat.

Dengan tubuh yang perih bekas cambukan, sakit karena kerasnya tarikan pada kedua tangan dan kakinya, merasakan tubuhnya mulai terbakar matahari gurun yang terik dan menahan beratnya batu yang ditindihkan di atas tubuhnya, ucapan yang keluar hanyalah kata, “Ahadun Ahad, Ahadun Ahad, Allahu Ahad.”

Semakin keras dan memilukan orang yang menyaksikan penyiksaan terhadap dirinya. Salah seorang pembantu Abu Bakar Ash Shidiq. Melihat Bilal disiksa karena keislamannya, orang itu segera melaporkan kepada Abu Bakar Ash Shidiq.

Mendengar apa yang pembantunya saksikan, Abu Bakar segera mendatangi Umayyah dan berkata, “Hey Umayyah, sekiranya engkau mau menjual budakmu, aku hendak membelinya,” kata Abu Bakar. Umayyah menjawab, “Kamu mau membeli budak yang tidak berguna ini?”

“Ya, jika engkau sudah tidak membutuhkannya lagi,” kata Abu Bakar Ash Shidiq.

Umayyah berpikir sejenak dan berkata, “Baiklah, aku jual budakku ini seharga 10 Dirham.” Harga 10 Dirham sengaja dibuat mahal dengan sangkaan Abu Bakar tidak akan mampu untuk membelinya. Tapi Abu Bakar langsung menjawab, “Baiklah, terima ini 10 Dirham,” kata Abu Bakar Ash Shidiq sembari menyerahkan uang.

Umayyah terkejut penuh keheranan, sebab Abu Bakar mamu membayar Bilal seharga 10 Dirham. Setelah uangnya diterima Umayyah, pembantu Abu Bakar Ash Shidiq segera melepaskan ikatan tali yang mengikat tangan dan kaki Bilal dan menurunkan batu yang menindih Bilal yang penuh dengan luka cambukan.

Umayyah berkata lagi, “Andaikan kau menawar sebesar 1 Dirham, tentu budak ini akakn aku lepas kepadamu.”

Abu Bakar membalas perkataan Umayyah, “Andaikan engkau menghargai budak ini seharga 100 Dirham, tentulah aku akan membelinya darimu.”

Bukan main menyesalnya Umayyah dengan melepas budaknya Bilal bin Rabbah seharga 10 Dirham karena dia tahu, Abu Bakar adalah orang yang dermawan dan tidak pernah berkata bohong.

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah SAW bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Abu Bakar Ash Shidiq menjawab, “Aku telah memerdekakanya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah SAW mengizinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah), mereka segera berhijrah, termasuk Bilal bin Rabbah. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena demam tinggi. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang merdu;

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti

Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil

Akankah suatu hari nanti aku minum air mijannah

Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil


Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan kampung halamannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena disanalah ia merasakan nikmatnya iman. Disanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridloan Allah. Disanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Rasulullah sekaligus kekasihnya, Nabi Muhammad SAW.

Bilal selalu menyertai Rasulullah SAW kemana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah SAW ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan adzan, maka Bilal bin Rabbah ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan (muadzin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan adzan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya berseru, “hayya ‘alash sholaah, hayya ‘alal falaah.” (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan). Lalu, ketika Rasulullah SAW keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bial segera melantunkan iqamah.

Perang yang pertama dan terbesar adalah perang Badar Al Kubra. Dalam perang ini, Bilal dipertemukan kembali dengan mantan tuannya, yaitu Umayyah bin Khalaf. Bilal berada dalam barisan Kaum Muslimin sedangkan Umayyah merupakan salah seorang pemimpin Kaum Kafir Quraisy dalam Perang Badar Al Kubra.

Demikianlah kisah teladan tentang keteguhan hati seorang hamba dalam mempertahankan iman, yaitu Bilal bin Rabbah dalam mempertahankan keislamannya. Semoga kita semua dapat meneladani keteguhan hati salah seorang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT ini.

Kirim Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.

Lebih baru Lebih lama