Mengapa Kita Harus Membantu Orang Yang Sedang Kesulitan?

Membantu dan menolong mereka yang kesusahan adalah perilaku yang diperintahkan oleh Islam dan sifat mulia yang merupakan implikasi dari persaudaraan yang tulus dan ikhlas. Kehidupan dan perilaku Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam menunjukkan teladan yang baik dalam setiap aspek kehidupan kita, terutama dalam membantu dan menolong mereka yang membutuhkan atau kesusahan.

Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam dikenal baik salah satunya karena sifat mulia ini, bahkan sebelum menerima wahyu dari Allah. Ketika beliau menerima wahyu yang pertama, akhirnya beliau kembali ke Khadijah ra. dan mengabarkan tentang hal apa yang telah terjadi padanya, beliau bersabada: "Saya takut sesuatu akan terjadi pada saya." Khadijah ra. kemudian berkata, "Tidak akan pernah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah mengecewakanmu ketika engkau menjaga tali persaudaraan, mengatakan kebenaran, menolong yang miskin dan yang lemah, melayani tamu dengan murah hati, dan membantu orang-orang yang menderita dan terkena musibah bencana.”

Membantu Dan Menolong Yang Membutuhkan Atau Kesulitan

Begitulah Khadijah ra., ia menyimpulkan bahwa Allah akan selalu melindungi Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam karena perbuatan baiknya, termasuk juga kegigihannya untuk membantu orang yang kesusahan, karena bagaimanapun juga seseorang akan menuai apa yang dia tanam.

Dalam Islam, membebaskan orang lain dari kesusahan dianggap sebagai kewajiban bagi mereka yang mampu melakukannya dan perbuatan baik yang harus dilakakukan setiap orang. Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam bersabda: "...Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat." Hadits tersebut telah menjadi sebuah pedoman hidup bagi umat Islam.

Selain itu Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam juga memerintahkan kepada umat Islam agar senantias selalu membantu mereka yang membutuhkan dan kesusahan. Ketika beliau melarang para sahabatnya duduk di jalan kecuali mereka memperhatikan hak-hak jalan, beliau menjelaskan bahwa hak-hak ini juga termasuk membantu mereka yang kesusahan dan membimbing mereka yang tersesat.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab karangannya al-Baraa ibn 'Aazib bahwa Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam dilewati oleh beberapa orang ketika mereka sedang duduk di jalan dan berkata kepada mereka: "Jika kamu harus duduk disana maka bimbinglah yang tersesat, balaslah ucapan salam dan bantulah yang kesusahan."

Membantu mereka yang kesusahan adalah amal yang berharga. Dalam hadits Abu Musa Al Ash'ari, Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam bersabda: "Memberi shodaqoh adalah kewajiban setiap Muslim." Beliau ditanya, “Wahai Rasulullaah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan?” Beliau Shallallaahu `Alaihi wa Sallam berkata: “Biarkan dia bekerja dengan tangannya dan memberi shodaqoh." Beliau ditanya, "Bagaimana jika dia masih tidak memiliki apapun untuk diberikan?" Beliau Shallallaahu `Alaihi wa Sallam menjawab: "Lalu biarkan dia membantu mereka yang membutuhkan dan dalam kesulitan..."

Allah Yang Maha Kuasa berjanji untuk meringankan kesusahan orang-orang yang meringankan orang lain pada Hari Kebangkitan. Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika seseorang meringankan seorang Muslim dari masalahnya, maka Allah akan membebaskannya dari masalah pada Hari Kebangkitan."

I‘tikaf, atau berdiam diri di masjid adalah suatu amalan ibadah yang hebat dan pahalanya juga luar biasa karena seorang Muslim meninggalkan segala urusan dunia dan menyerahkan dirinya untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Namun, pahala orang yang memenuhi kebutuhan orang lain lebih besar dari pada orang yang melakukan ibadah I'tikaf tersebut.

Dalam hal ini, Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh berjalannya seseorang di antara kamu sekalian untuk memenuhi kebutuhan saudaranya hingga terpenuhi, lebih baik baginya daripada ber’tikaf di masjidku ini selama sepuluh tahun”. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Nabi SAW bersabda:

“Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang muslim, maka dengan hal itu Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya di hari kiamat” (HR. Bukhari-Muslim)

Membantu mereka yang kesulitan dan memenuhi kebutuhan orang lain menunjukkan iman yang kuat dan persaudaraan yang tulus. Ksatria dan murah hati tidak bisa bertahan melihat siapa pun dalam kesulitan, dan tanpa ragu-ragu atau menunda mereka bergegas untuk membantu yang kesusahan, secara sukarela mencari pahala dari Allah SWT.

Nabi Musa As., adalah Nabi Allah yang murah hati dan mulia, beliau melarikan diri dari penindasan Firaun. Beliau lelah dan letih ketika sampai di sumur Madyan, dan disana beliau menemukan sekelompok pria sedang menyirami kawanan ternak mereka. Nabi Musa juga melihat dua orang wanita yang sedang menunggu para pria itu selesai, sehingga mereka dapat menyirami kawanan ternak mereka juga. Begitu Nabi Musa mengetahui hal itu, tidak menunggu untuk meminta bantuan mereka, tetapi Nabi Musa mengambil inisiatif sendiri dan menyirami mereka

Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ ٢٣ فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤

Artinya:
Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al Qashash ayat 23-24)

Ini adalah sikap kesatria - mereka tidak pernah ragu dalam hal membantu orang lain dan menghilangkan yang tertekan.

Akhirnya, dengan membantu mereka yang membutuhkan dan menolong mereka yang kesusahan adalah cara untuk berterimakasih dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa atas berkah-Nya, dan ini menyebabkan berkah yang Allah berikan akan terus bertambah dan meningkat, karena semakin banyak berkah yang diberikan seseorang, semakin banyak berkah yang diberikan seseorang, semakin banyak orang membutuhkan bantuannya. Oleh karena itu, jika seseorang bersyukur kepada Allah, maka mereka akan berkecukupan atas segalanya.

Kita mencari perlindungan hanya kepada Allah terhadap segala hal yang buruk dan semoga senantias shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasul-Nya Shallallaahu `Alaihi wa Sallam, keluarganya, para sahabatnya dan mereka yang mengikutinya.

Kirim Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.

Lebih baru Lebih lama