Kesabaran Asiyah Binti Muzahim Dalam Menghadapi Fir’aun

Hai sobat. Kali ini Guru Abata akan membagikan kisah seorang wanita yang merupakan istri dari seorang raja yang sangat kejam, yaitu Fir’aun. Tidak banyak orang mengira, bahwa di balik kebengisan Fir’aun itu terdapat kesabaran Asiyah binti Muzahim dalam menghadapi Fir’aun.

Asiyah binti Muzahim adalah salah seorang wanita yang sabar dan namanya diabadikan Allah dalam Al Qur’an. Ia adalah istri salah satu raja yang sangat berkuasa, kaya dan perkasa sepanjang sejarah manusia, yaitu Fir’aun.

Asiyah juga merupakan ibu angkat yang sangat pengasih dari salah seorang Nabi besar, yaitu Nabi Musa as. Dalam ukuran “duniawi”, tidak ada yang perlu membantah “kemuliaannya”.

Kesabaran Asiyah Binti Muzahim Dalam Menghadapi Fir’aun

Tetapi, kemuliaan duniawinya ini tidak lantas membuatnya lupa diri dan lupa daratan, atau tergelincir dari kehambaannya di depan Allah Azza wa Jalla. Asiyah tidak selalu dengan gemerlap kehidupan dunia yang fana.

Saat sedang mandi di telaganya, Asiyah tiba-tiba melihat peti berisi bayi laki-laki. Lalu bayi itu diambil dan dibawa pulang ke istana. Orang-orang tidak senang dengan kehadiran bayi itu. Jangan-jangan bayi itulah yang kelak akan mengalahkan Raja mereka.

Para pembesar kerajaan kemudian menghasut Fir’aun agar membunuhnya. Tapi, Allah SWT mengilhamkan kepada Asiyah untuk cepat bertindak. Ia minta kepada Fir’aun agar tidak menuruti nasihat mereka.

Dalam Al Qur’an Surah al Qashash ayat 9 disebutkan; “Dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari.

Dengan izin Allah hati Fir’aun luluh, maka selamatlah sang bayi mungil yang diberi nama Musa itu. Bahkan akhirnya, bayi mungil itu diangkat menjadi putra Fir’aun.

Bayi laki-laki itu diasuh sendiri oleh Asiyah. Ia sangat menyayangi putra angkatnya itu. Bayi tersebut diperlakukan seperti anaknya sendiri. Bayi yang tak lain adalah Nabi Musa as itu mendapat didikan langsung dari Asiyah.

Pernah suatu hari, bayi itu digendong Fir’aun. Tiba-tiba sang bayi mencabut jenggotnya. Betapa marah Fir’aun ketika itu karena kesakitan. Ia memerintahkan para pengawalnya untuk membunuh sang bayi.

Namun sebelum niat itu dilaksanakan, lagi-lagi Asiyah tampil membelanya. Ia mengatakan kepada Fir’aun bahwa bayi itu tidak pantas dibunuh karena masih belum mengerti. Sebagai bukti, Asiyah meminta kepada pengawal Fir’aun untuk menyediakan roti dan arang (api).

Kemudian bayi itu disuruh memilih diantara keduanya. Ternyata bayi Musa memilih roti, tapi malaikat segera menuntun tangan Musa untuk meraih arang. Melihat hal itu, Fir’aun akhirnya bisa menerima argumentasi istrinya.

Di lingkungan istana Fir’aun, Asiyah adalah satu-satunya keluarga istana yang tidak mau tunduk dan patuh kepada Fir’aun. Padahal, seluruh keluarga istana menjadi pengikut Fir’aun karena takut dibunuh.

Fir’’aun adalah seorang raja yang lalim dan kejam. Ia memiliki nala tentara yang besar dan kejam sehingga sewaktu dia memerintahkan rakyatnya untuk menyembahnya, hanya segelintir orang yang tidak mau mengikuti perintah itu. Diantaranya adalah Nabi Musa, Asiyah dan pelayan rumah tangga kerajaan bernama Masyithoh.

Allah juga memberikan Asiyah hati yang lemah lembut. Hatinya yang lembut itu ia tunjukkan tatkala Fir’aun menghukum keluarga Masyithoh yang tidak mau mengakui ketuhanannya.

Ia adalah satu-satunya keluarga istana yang berucucuran air matanya ketika menyaksikan bagaimana keluarga Masyithoh dilemparkan ke dalam kuali yang penuh berisi minyak yang sedang mendidih, karena keluarga itu berimana kepada apa yang dibawa oleh Musa.

Tanpa belas kasihan para algojo Fir’aun melemparkan satu persatu anak Masyithoh ke dalam minyak tersebut.

Hati Asiyah semakin teriris tatkala giliran anak terkecil yang masih ada dalam pelukan pelayan perempuan istana Fir’aun itu juga dilempar ke dalam kuali.

Pada saat itulah ia juga melihat sebuah kebenaran ketika tiba-tiba bayi yang masih dalam gendongan itu berkata, “Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Bayi itu berkata kepada ibunya ketika mulai ada perasaan takut dan iba menguasai hati Masyithoh.

Sewaktu semua orang berbondong-bondong menyatakan pengakuan terhadap ketuhanan Fir’aun, Asiyah malah sebaliknya. Ia terang-terangan menolak Fir’aun sebagai Tuhan. Betapa pun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami, ia tidak bisa menerima pengakuan itu. Ia tetap memegang teguh keyakinannya bahwa Tuhan yang patut disembah adalah Allah Yang Maha Esa.

Ia lebih memilih dihukum dari pada harus mengakui ketuhanan suaminya yang berarti musyrik kepada yang kekal, yaitu Allah. Sikapnya itu membuat Fir’aun marah. Asiyah terus menerus mendapat tekanan agar meninggalkan keyakinannya itu.

Tetapi usaha itu sia-sia. Meski hidup dalam tekanan dan ancaman, ia tidak takut sedikit pun dalam mempertahankan keyakinannya. Ia tetap sabar menghadapi perilaku buruk suaminya. Tabah menghadapi kekejaman suaminya dan hanya pasrah kepada Allah.

Asiyah tetap teguh mengikuti ajaran Musa as. walau nyawa sebagai taruhannya. Ketika Fir’aun masuk ke dalam kamarnya setelah membakar keluarga Masyithoh, Fir’aun berkata, “Kuharap kamu telah menyaksikan bagaimana yang terjadi atas perempuan yang ingkar kepada tuhannya yang agung, Fir’aun.” Dengan segera Asiyah menyela, “Celaka engkau hai Fir’aun dengan adzab Allah!” tak ayal lagi, perkataannya itu telah membuat Fir’aun marah besar.

Fir’aun segera memerintahkan para pengawal untuk mengikatnya di empat tiang kebun istana, kemudian para pengawal mengambil cemeti dan menderakan ke tubuh Asiyah. Sementara, Fir’aun memerintahkan untuk memperkeras siksaan itu. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Asiyah selain munajat kepada Allah SWT yang diabadikan dalam Al Qur’an Surah At Tahriim ayat 11 yang artinya;

“Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”

Usai sudah kisah tentang kesabaran Asiyah binti Muzahim dalam menghadapi Fir’aun ini. Semoga kisah orang-orang yang sabar dalam mempertahankan imannya ini dapat memberi pelajaran kepada kita untuk selalu mempertebal iman Islam kita.

Kirim Komentar

Komentar dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera muncul.
Silahkan berkomentar dengan bahasa yang baik dan santun serta tidak spamming.

Lebih baru Lebih lama